This image has an empty alt attribute; its file name is image-3.png

BOLAGILA – Sejumlah negara termasuk Indonesia kini kembali dihadang lonjakan kasus COVID-19. Kali ini, imbas merebaknya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Lantas, adakah perbedaan gejala dominan pada pasien COVID-19 gelombang kali ini dari gelombang-gelombang sebelumnya?

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) melaporkan, hingga kini tidak ada bukti bahwa subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. memicu penyakit lebih berat dibanding varian Corona lainnya. Namun begitu dibanding BA.2, BA.5 tumbuh 35,1 persen lebih cepat dan BA.5 19,1 persen lebih cepat.

“Jelas bahwa peningkatan prevalensi Omicron BA.4 dan BA.5 secara signifikan meningkatkan jumlah kasus beberapa minggu terakhir. Kami melihat peningkatan keterisian rumah sakit sejalan dengan infeksi masyarakat tetapi vaksinasi terus menjaga keterisian ICU dan kematian pada tingkat yang rendah,” beber Kepala Penasihat Medis UKHSA, Susan Hopkins, dikutip dari BOLAGILA Selasa (5/7/2022)

“Dengan meningkatnya prevalensi, kita semua tetap waspada, mengambil tindakan pencegahan, dan memastikan bahwa kita mendapatkan vaksinasi COVID-19 yang tetap menjadi bentuk pertahanan terbaik kita terhadap virus,” sambungnya.

Sejalan dengan itu, National Health Service (NHS) Inggris melaporkan, tidak ada perbedaan signifikan antara gejala subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 dengan varian-varian Corona sebelumnya. Berikut daftar gejala pasien COVID-19 pada gelombang kali ini menurut NHS:

Suhu tinggi atau menggigil (Suhu tinggi berarti tubuh terasa panas hanya dengan menyentuh dada atau punggung, tanpa harus mengukur suhu tubuh)
Batuk baru yang terus menerus selama lebih dari satu jam, atau tiga atau lebih episode batuk dalam 24 jam

Kehilangan atau perubahan indra penciuman dan perasa
Sesak napas
Merasa lelah atau lelah
Tubuh sakit
Sakit kepala
Sakit tenggorokan
Hidung tersumbat atau berair
Kehilangan selera makan
Diare
Merasa sakit atau saki

Apa Gejala Paling Dominan?
Namun dalam kesempatan lainnya, aplikasi studi Zoe COVID melaporkan 69 persen pasien COVID-19 pada gelombang kali ini mengalami gejala sakit kepala. Banyak pasien mengalami sakit kepala yang menetap, bahkan ketika sudah dinyatakan sembuh dari COVID-19.

“Data kami menunjukkan bahwa sakit kepala ini sering datang dan pergi, tetapi untungnya mereka secara bertahap berkurang seiring waktu,” terang pihak aplikasi studi ZOE COVID, dikutip dari Times of India, Selasa (5/7).

Sakit kepala akibat COVID-19 memang bisa terasa mirip dengan sakit kepala tegang dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang. Sakit kepala ini kerap terasa seperti tekanan di sekitar dahi atau bagian belakang kepala dan leher